Showing posts with label Dunia Traveling. Show all posts
Showing posts with label Dunia Traveling. Show all posts

Friday, June 12, 2015

Jadikan Museum Menarik


Jogja memiliki banyak museum. Namun sayangnya, tak banyak masyarakat yang mengetahuinya. Padahal, tak sedikit museum yang memiliki koleksi menarik. Sayang sebenarnya, ketika museum-museum tersebut tidak dikunjungi. Museum sebenarnya bisa menjadi destinasi wisata yang menarik apabila dilakukan beberapa perombakan. 

Museum Monumen Jogja Kembali (Sumber Gambar)

Pertama, ketersediaan informasi yang benar dan jelas. Selama ini, akses untuk mendapatkan informasi museum di Jogja sangat sulit. Maka, museum di Jogja perlu memberikan satu portal khusus untuk mengakses semua yang berhubungan dengan museum di Jogja. Satu layanan terpadu akan memungkinkan semua pengunjung mendapatkan informasi secara valid dan mudah.

Kedua, buat tagline yang menarik. Tagline menjadi salah satu hal yang penting dalam sebuah pemasaran—dalam hal ini, kita memasarkan museum. Jadi, tak ada salahnya membuat tagline yang menarik agar masyarakat mau mengunjungi museum, bukan? Pilihlah tagline yang komunikatif, segar ide, dan mencerminkan tentang museum itu sendiri.

Ketiga, membuat program yang menarik. Buat program secara berkala, misalnya paket tour ke beberapa museum, tiket terusan untuk beberapa museum sekaligus, paket tour siswa sekolah, aneka lomba, dan sebagainya. Dengan program yang menarik, museum di Jogja akan lebih dilirik oleh masyarakat.

Perombakan tersebut diharapkan mampu menarik animo masyarakat untuk berkunjung ke museum. Dengan begitu, museum pun bisa menjadi destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi. (Fatih)

*) Tulisan ini diikutkan dalam lomba menulis @Museum_Jogja #MuseumDay

Monday, March 23, 2015

Menjelajah Komodo National Park Part. 2: Trip Day 1: Pulau Kelor, Pulau Rinca, dan Pink Beach

Baca catatan sebelumnya di SINI!

Adzan subuh berkumandang. Saya terbangun dan mengerjap-ngerjapkan mata, gelap. Saya berusaha mengingat-ingat sedang berada dimana dan seketika menyadari bahwa saya ada di dalam kapal di Labuan Bajo. Saya ambil ponsel, pukul setengah 5. Saya bangunkan teman-teman dan berdiskusi sejenak: kemana kami mandi? Akhirnya kami sepakat untuk menuju masjid di Labuan Bajo, masjid transit hari sebelumnya. Rupanya, di Pelabuhan ini TIDAK ADA MCK umum. Duh, rempong banget ya. Di Ende saja, yang bukan kota wisata punya MCK umum yang hanya perlu bayar 2 ribu rupiah saja, di sini, di kota wisata, malah tidak ada MCK umum. Nasib jadi wisatawan kere ya kayak gini, wkwkwk. Beruntung, kami bisa mandi di Masjid yang mulai sepi. Selepas mandi kami bergegas ke kapal lagi, karena kapal akan segera berlayar.
Labuan Bajo

Friday, August 15, 2014

Menjelajah Komodo National Park Part. 1


Gerbang Masuk

Salah satu destinasi wisata yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah Komodo National Park. Kawasan ini menjadi salah satu dari keajaiban dunia. Well, seberapa ajaibkan tempat ini sebenarnya? Beruntung, saya bisa mengunjungi tempat ini pada liburan Idul Fitri tahun ini. So sad sebenarnya, karena Idul Fitri tahun ini tidak saya nikmati bersama dengan keluarga di rumah, melainkan di tempat pengabdian. Tapi, menjadi agak menyenangkan karena saya berkesempatan untuk mengunjungi Komodo. Yep, the last living dinosaur in this world. So, how’s it going?! Inilah ceritanya.

Rencana ke Komodo sebenarnya sudah terplanning sejak saya datang ke Tanah Flores. Hanya ada 4 tujuan wisata yang ingin saya kunjungi: Danau Kelimutu, Pantai Koka, Riung, dan Komodo. Danau Kelimutu sudah saya kunjungi di sini, begitupun dengan Pantai Koka. Riung sendiri saya jambangi ketika libur Paskah di SINI. Nah, the last, akhirnya saya kesampaian datang ke Komodo ketika ada tawaran touring bersama tim UNNES.

Budget touring kali ini adalah 850ribu dengan rincian 500ribu untuk 2 hari dan 1 malam di kapal, sedangkan 350ribu untuk charter bus pulang pergi, minus makan selama perjalanan menuju dan dari Labuan Bajo. Bagi saya yang kebanyakan travel guide menyediakan jasa wisata dengan IDR di atas 1 juta, angka 850ribu terbilang murah. So, dengan 8 orang lainnya dari tim UNY, saya pun berangkat.

Berangkat Dini Hari, Menunggu Bus

Perjalanan di mulai pada hari Kamis dini hari, pukul 3 pagi. Bersama dengan 19 orang lainnya, kami naik bus damri. Busnya nyaman, apalagi saya dapet kursi paling depan—antisipasi kalau saya mabuk—iye, saya mabukan -_-. Sebenarnya touring hari itu diikuti oleh 36 orang, sementara 20 orang naik bus dan sisanya dengan motor. Saya sih ngeri saja membayangkan harus naik motor dari Ende-Labuan Bajo yang berjarak +/- 500 km. Selain medan yang berliku dan penuh tanjakan dan turunan, badan yang capek menjadi faktor utamanya. Apalagi saya cewek. Kalau harus naik motor, tentu kasihan dengan yang boncengin saya kan, hehehe... *seandainya ‘kamu’ di sini, Bang ^^.

Start jam setengah 4 kami berangkat dari Ikan Duyung, basecamp tercinta. Bus melaju dengan kencang. Dari kota Ende, bus mengambil arah ke Nangapanda, menuju ke jalan lintas Flores. Suasana jalan masih sepi—dan memang selalu sepi sih—sehingga bus asyik saja menerabas jalanan. Sampai di Nangapanda, tepatnya daerah sebelum Numba, sopir bus berhenti. Saya masih bangun, belum tidur. Sopir bus keluar dari bus dan mengecek sesuatu. Setengah jam kemudian, sopir bus marah-marah, bannya entah kenapa, pintu bus yang tengah rompal—beneran guys, engselnya terlepas, dan dompetnya pak sopir hilang. Beberapa teman mulai keluar dan duduk di serambi masjid. Begitupun dengan saya. Satu jam berikutnya, kamu sudah melaju menembus jalanan Nangapanda dengan bus yang baru, yap busnya diganti. Alhamdulillah...perjalanan lancar. Kami menjemput salah satu teman di hampir Nangaroro, kemudian menembus menuju Bajawa dengan sunrise menemani sepanjang jalan. Saya pun mengantuk dan tertidur.
 
Pemandangan di Dermaga Labuan Bajo
Perjalanan hari itu memakan waktu kurang lebih selama 12 jam. Kami singgah di Aimere untuk makan (sarapan dan makan siang). Setelah itu, kami berhenti di Ruteng untuk bertemu dengan teman SM3T lainnya. Selanjutnya, bus melaju kencang menembus Mannggarai dan tidak berhenti lagi sampai kami tiba di Labuan Bajo jam setengah 7 sore. Kami berhenti di Masjid Labuan Bajo untuk sholat dan bersih diri. Selepas itu, kami makan di bibir laut Labuan Bajo, lesehan penyetan. Heran, dimanapun berada, lesehan penyetan khas orang Jawa selalu ada. Dinner-nya nikmat, meski minus satu, karena pesanan teh panasnya zonk alias tidak dapat -_-.

Bersiap Live on Board

Selesai makan, kami menuju pelabuhan. Ternyata, paket tour yang kami ambil adalah live on board. Artinya, kami akan tinggal di kapal selama tour berlangsung. Kami briefing sejenak untuk pembagian kamar. Karena banyak yang tidak bawa SB alias sleeping bag, kami diberi satu kamar kecil di dalam kapal untuk 5 orang. Jadi, malam itu, kami berdesakan di dalam kamar sempit dengan tas dan barang bawaan yang ditumpuk-tumpuk dengan seadanya. Tidak ada yang berniat untuk beres-beres. Kami langsung terlelap karena badan kecapaian.

Bersambung!

Saturday, May 3, 2014

Pulau Ende (Warna-warni Ende Part. 46)



Salah satu pulau berpenghuni yang terletak di Selatan Kab. Ende adalah Pulau Ende. Pulau ini terlihat sangat jelas dari sepanjang jalan di Pantai Selatan Ende. Bahkan, dari bukit tempat saya tinggal pun Pulau Ende kadang terlihat. Terlihat sangat kecil saja dari kejauhan.

Sudah lama sebenarnya saya ingin menikmati keindahan pulau ini, karena selama ini hanya dapat menikmatinya dari kejauhan saya. Banyak teman saya yang sudah menyeberang ke pulau itu dan memberikan cerita-cerita yang berbeda. Ada hal yang mistis, eksotis, dan juga menyenangkan. Maka, karena ada undangan untuk membantu acara Festival Hardiknas di Pulau Ende, saya bersama dengan beberapa teman pun berangkat ke pulau beberapa hari lalu.

Sampan dan Kapal untuk Menyeberang
Transportasi utama ke Pulau Ende adalah dengan menggunakan kapal. Biaya penyeberangan untuk satu kali adalah Rp 7.000,00, cukup murah untuk perjalanan selama +/- 1 jam. Sebelum naik ke kapal utama, kami naik sampan kecil terlebih dahulu karena kapal utama tidak bisa merapat ke pantai. Memang, untuk kapal penyeberangan, tidak ada dermaga di sini. Dermaga hanya diperuntukkan untuk kapal barang  (umumnya dari Surabaya).

Kami naik ke kapal pada pukul 10.00 WITA. Hawa angin laut menyapa. Pengalaman beberapa hari yang lalu pesiar ke Riung sudah membuat saya mulai terbiasa untuk naik ‘sesuatu-yang-mengapung-di-atas-air’. FYI, saya pernah nyaris tenggelam sampai dua kali, sehingga saya sangat-sangat trauma sekali dengan yang namanya air. Tetapi, sejak kemarin (dengan sangat amatir) nyebur ke laut di Riung bergaya snorkling, maka ketakutan saya akan air, menjadi berkurang sekitar 25%. So, merasakan alunan ombak dan goyangan kapal selama satu jam perjalanan menjadi sesuatu yang biasa dan layak untuk dinikmati. Apalagi, kapal yang kami gunakan memiliki ruang atas sehingga kami bisa memandang ke kejauhan. Di belakang kami, daratan Kota menjauh, sedangkan di depan kami Pulau Ende tampak mendekat. Lautan luas di sebelah selatan terlihat tenang, sedangkan di sebelah utara terlihat deretan Perbukitan Ende, Nanga Panda, dan bahkan ke arah Nagekeo pun perbukitannya bisa terlihat.

Pemandangan ini membuat saya lama-lama mengantuk. Tapi tentu saja tidak bisa tidur.

Setelah beberapa lama, kami pun sampai di Pulau Ende. Pulau ini ternyata sangat besar. Dan saya cukup heran, ternyata dermaga dan pantai di Pulau Ende justru terletak di barat pulau, daerah yang tidak terlihat dari Kota Ende. Banyak sampan dan perahu serta kapal besar yang ditambatkan di sana. Air sedang pasang sehingga menyentuh dinding batas pantai.

Apa yang dirasakan pertama kali ketika berada di pulau? Ternyata hawanya sangat panas sekali, bahkan lebih panas dari kota. Keringat langsung membanjir. Hal tidak menyenangkan lainnya adalah sulitnya mendapatkan air yang sama dengan air di kota atau bukit. Air di sini didapatkan dari sumur yang kedalamannya mencapai 38 meter. Jadi, untuk mencukupi berbagai kebutuhan untuk minum, cuci, dan mandi, warga di sini menimba air di sumur tersebut. Khusus bagi SM3T, bisa menggunakan air tampungan hujan yang dibuat di SMP di sana. Ada +/- 8 tempat penampungan air hujan. Risikonya sama sih antara menimba dan menampung air, yaitu tenaga pengangkutan yang sama. Well, tinggal di sini selama 1 minggu tangan sudah kapalan karena terlalu repot mengurus air.
 
Pemandangan Pagi di Pantai Kota
Kami tinggal di pulau selama 2 hari, dan kembali ke kota pada subuh kedua. Kenapa subuh? Karena kapal di sini hanya menyeberang di waktu-waktu tertentu saja, terkadang hanya satu atau dua kali saja berlayar dalam satu hari. Untuk kapal pertama akan berlayar selepas sholat shubuh. Nilai plusnya, kami bisa menikmati sunrise yang muncul di balik jajaran pegunungan Ende.

Perjalanan pulang serasa lebih ekstrim. Meskipun air tidak pasang, tapi ombak terlihat sangat besar ketika kami mulai meninggalkan Pulau Ende. Gelombang yang besar membuat suasana terlihat agak horor. Istilahnya itu, kalau naik bus, seperti ketika berada di jalanan yang berkelok naik turun di tepi jurang, membuat jantung tidak berhenti berdebar. Tapi, tentu saja, karena ini adalah pengalaman pertama saya jadi agak ekstrim. Saya lihat, hampir semua orang yang naik kapal bersama kami terlihat biasa dan enjoy saja, ada yang sambil tiduran juga.

Kami sampai di kota pada pukul 07.00 WITA. Pemandangan terlihat indah.

#Satu tahun untuk selamanya
2 April 2014

Riung, Gugusan Pulau Indah di Daratan Flores (Warna-warni Ende Part. 45)



Pulau Flores memiliki tiga destinasi wisata yang sangat keren (menurut saya): deretan rumah adat di beberapa kawasan yang masih alami, pantai-pantai di sepanjang selatan dan utara pulau yang keindahannya belum banyak terekspos publik, serta Danau Kelimutu. Dan kali ini, saya ingin posting salah satu tempat yang sempat saya kunjungi beberapa waktu lalu, yaitu Riung.

Dermaga Riung
Riung merupakan gugusan 17 Pulau yang ada di Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada. Riung berlabel Taman Wisata Air Laut (TWAL) 17 Pulau. Ada 17 pulau di wilayah itu yang begitu indah dengan laut yang penuh dengan terumbu karang menawan. Beberapa pulau berpasir putih itu memiliki kelebihannya masing-masing. Well, that’s why I do really wanna go there.

Libur Paskah yang panjang menjadi waktu yang kami pilih untuk pergi. Kami start dari Kota Ende pukul 05.15 WITA. Jarak dari kota Ende adalah 110-an km. Kami perkirakan waktu perjalanan adalah 4 jam, sehingga kami akan sampai di Riung pada pukul 09.15 WITA. Menurut banyak blog dan obrolan dengan teman, Riung asyik dinikmati saat pagi hari. Ada 4 motor yang pergi hari itu. Beruntung, salah satu dari kami sudah pernah berkunjung ke sana, sehingga ada penunjuk jalan. Kami berjalan santai menyusuri jalan Nangapanda. Matahari masih tampak malu-malu. Hawa masih dingin, sisa-sisa angin pantai yang berhembus.

Matahari bersinar dan mengusir hawa dingin ketika kami memasuki Kabupaten Nagekeo. Jajaran pantai berubah menjadi perbukitan hijau. Jalan halus Nangapanda berubah menjadi jalan beraspal yang sedang dalam perbaikan. Kami mengurangi kecepatan karena jalan licin. Gunung Inerie di kejauhan tampak indah menjulang di antara perbukitan Nagekeo.

Tak beberapa lama kemudian, kami sampai di Cabang, arah kanan menuju ke Bajawa, sedangkan arah kiri menuju Mbay. Kami melaju menuju Mbay. Jalan halus dan berbukit kami sasar. Kecepatan ditambah karena jalanan sepi. Sepemahaman saya, memang jalan-jalan di Flores terbilang sepi meskipun berstatus sebagai Jalan Negara. Well, mungkin karena berbagai faktor sehingga tidak banyak orang yang bepergian di sini. Saya membaca salah satu papan jalan di sana: Aesesa. Kami ada di Kecamatan Aesesa.

Dua jam perjalanan dari Kota, kami mulai melihat Kota Mbay di kejauhan. Kota Mbay berbeda dengan Kota Ende. Kota Mbay tampak datar dan tidak berbukit. Tampak subur tapi juga janggal karena berada di pinggiran perbukitan. Garis pantai di kejauhan memperelok pemandangan. Jalan mulai menurun tanda kami memasuki Kota Mbay. Dan betapa bahagianya saya melihat deretan sawah berpadi tampak segar di pinggir jalan. Well, saya serasa kembali ke tanah Jawa *kangen rumah.

Kota Mbay tidak terlalu ramai, tidak seperti Kota Ende. Tapi, melihat kawasan pemukiman penduduk setelah wilayah dan berbukit dengan sedikit pemukiman itu adalah sesuatu yang melegakan sekaligus asing. Pasar Mbay yang saya rasa merupakan sentral pasar di situ terlihat sangat ramai.

Sawah di Mbay, Ini Masih di Flores, lho, Bukan di Jawa
Dari Kota Mbay, kami menuju ke arah Riung. Deretan bukit teletubis mengiringi perjalanan kami meninggalkan Mbay. Kenapa disebut bukit teletubies? Karena kami teringat bukit-bukit yang ada di Film Teletubies, film waktu kami masih anak-anak. Satu bukit yang tidak terlalu tinggi dengan ilalang yang memenuhinya, atau satu dua pohon dan semak belukar. Bukit-bukit itu menjulang di samping kanan kiri, terlihat elok sekali. Terkadang, ada segerombolan sapi yang  bersantai sambil merumput di sana. Indah. Indah.

Deretan bukit teletubies menghilang, berganti dengan jalan kecil di tengah hutan. Well, saya tidak tahu sih bagaimana menyebutnya, karena pohonnya tidak terlalu tinggi sehingga agak aneh juga bila disebut hutan. Hampir 1 jam kami melintasi jalan setapak itu. Agak ramai. Banyak motor yang ngebut sehingga tampak berbahaya sekali. Kami pun juga ngebut. Tak beberapa lama kemudian, hawa pantai mulai terlihat. Kami berhenti sejenak karena terlihat ada kampung nelayan. Sudah sampaikah kita di Riung?

Kapal Sewaan untuk Berkeliling Pulau
Oh, ternyata belum. Riung masih sekitar 30 menit lagi. Kami pun mengikuti satu-satunya jalan yang ada. Alih-alih jalan di pinggir pantai seperti di Kota Ende, kami malah memasuki hutan. Tapi tentu saja tidak sembarang hutan. Kami melintasi deretan hutan bakau di samping kanan (bakau kah? Well, saya tidak tahu sih, sok tahu saja nih, wkwkwk). Oh, ternyata hutan itu untuk mencegah abrasi pantai. Kami lihat air laut bahkan sudah sampai di jalan yang kami lintasi—beberapa tergenang. Satu dua kali kami bisa melihat air laut di antara hutan bakau itu.

Tak beberapa lama kemudian, kami mulai memasuki daerah pemukiman. Kami sampai di Riung. Jam menunjukkan pukul 08.45. Perjalanan kami memakan waktu 3,5 jam. Not bad, eh?!

Well, saya agak kaget sih sebenarnya, karena hampir tidak terlihat seperti tempat wisata. Hanya semacam dermaga saja. Di kanan kiri, masih banyak rumah panggung yang terbuat dari kayu. Sudah tampak lapuk dan tua. Mungkin pengaruh angin laut. Dari jauh, tampak gugusan pulau. Hanya ada 2 atau 3 pulau yang terlihat, sementara yang lainnya sangat jauh hingga tidak terlihat.

Kami kemudian menyewa kapal. Hanya satu orang yang menawari kami--mungkin karena hari sudah siang, sehingga tidak banyak kapal yang tersisa. Tawar menawar pun dimulai. Akhirnya kami mendapat harga Rp 300.000 untuk sewa kapal dan Rp 150.000 untuk tiga pasang jaket pelampung dan kacamata snorkling. Sangat amatir jadi kami hanya menyewa seadanya. Kami berlayar tepat pukul 10.00 WITA. FTI, tiket masuk ke tempat pariwisata itu adalah @Rp 1.500, cukup murah sekali. Untuk motor, kami membayar Rp 10.000 untuk 3 buah motor.

Narsis di antara kelelawar
Pulau pertama yang kami kunjungi adalah Pulau Kelelawar. Namanya cukup unik namun sesuai dengan kondisinya. Pulau ini memiliki ratusan, bahkan ribuan kelelawar yang bertengger di dahan pohon. Alih-alih terbang di malam hari, kelelawar ini tetap keluar bahkan saat siang hari. Kami tidak turun di sana, hanya berhenti di dekat deretan pohon tempat kelelawar berada. Kami pun berteriak-teriak, salah satu cara untuk membangunkan kelelawar itu hingga mau terbang. Pemandangan ketika kelelawar itu terbang benar-benar mengasyikkan. Dan itulah moment terbagus untuk mengambil foto. Siapkan kamera dan bersiaplah untuk berteriaaaaaakkk!!!

Setelah Pulau Kelelawar, kami menuju ke lokasi kedua, yaitu tempat snorkeling. Lokasinya di tengah laut. Saya melongok ke dalam air dan melihat terumbu karang dan ikan warna-warni tampak di sana. Rinda, satu-satunya orang yang bersemangat untuk berenang segera menunjukkan kemampuannya berenang dan menyelam. Dia bilang indah. Saya pun penasaran. Dan karena tidak bisa berenang—well, saya memang phobia berenang—saya pun memakai jaket pelampung dan terjun ke air. Ketakutan saya seketika menerjang—takut tenggelam. Lantas saya ingat perkataan Si Abang, ‘Tetap tenang!’. Saya pun berusaha tenang. Tangan bergerak, kaki bergerak, satu , dua mulai bisa bergerak. Hore saya tidak takut air!!!!

Belajar Renang Sambil Menikmati Terumbu Karang
Saya segera menikmati terumbu karang di sana. Mirip melihat akuarium yang besar. Hehehe...makhlumlah, saya awam sekali dengan urusan ini, jadi kalau terlihat katrok yang tidak apa-apa lah...hahaha...

Puas dengan terumbu karang, kami lanjut ke pulau berikutnya, yaitu Pulau Roteng. Pulau ini terlihat indah dengan dua buah gazebo yang ada di pesisir pantainya. Perahu ditambatkan, kami pun turun dan berfoto-foto. Pemandangan di pulau ini bagus sekali. Yang paling menarik, pulau itu berada di tengah-tengah pulau lainnya dengan pantai yang lebar, sehingga kami bisa main air, main pasir dan berfoto dengan view yang amazing banget.

Pulau ketiga sekaligus pulau terakhir adalah Pulau Tiga atau Panjang. Tidak seperti pulau sebelumnya yang memiliki pantai lebar, pulau ini terlihat bahkan tidak memiliki pantai untuk bergerak. Mungkin air sedang pasang. Saya mencoba berenang lagi, tetapi air laut terlalu tinggi dan saya capek, akhirnya menyerah dan hanya berjalan-jalan saja. Kami sempat memanjat pohon kelapa dan minum airnya. FYI, sejak pagi kami belum makan sehingga hampir semua orang yang ikut touring berada dalam kondisi yang tidak tidak fit, jadi kami minum air kelapa untuk menambah cairan tubuh, alias isotonik alami, hehehehe...
Menurut berbagai sumber, pulau ini memiliki panorama bawah laut yang indah dengan terumbu karangnya, sehingga cocok untuk snorkling. Tapi, karena fisik sudah lelah, hanya Rinda saja yang masih semangat menikmat berenang, sementara yang lainnya hanya berjalan-jalan saja.

Jajaran Rumah Panggung di Pinggir Dermaga Riung
Badan sudah capek dan perut sudah keroncongan. Kami pun bergegas pulang, sudah pukul 14.00 WITA. Kapal menuju ke dermaga lagi. Sesampainya di dermaga, kami segera mencari rumah makan. Warung yang dituju berada di Pasar Riung, yaitu Warung Bakso. Menu yang ditawarkan banyak, mulai dari Bakso, Soto, Rames (Nasi Ikan), Sate, Gulai, dsb dengan harga yang variatif, antara Rp 10.000 – Rp 25.000. Saya pesan bakso dengan teh panas. Selesai makan, badan lebih segar, kami menuju ke salah satu rumah seorang rekan SM3T yang berada tidak jauh dari situ. Di sana kami mandi, makan gorengan, dan minum.

Kami pamit dari tempat itu sekitar pukul 17.00 WITA. Matahari masih terang, tapi awan gelap terlihat jauh di atas perbukitan Nagekeo. Malam mulai turun. Sampai di arah Mbay, hujan turun dengan deras. Hujan mengguyur hingga sampai di Aesesa. Jalan gelap, hujan, dan berkelok-kelok membuat kami tak bisa menambah kecepatan, hanya berkisar 40-50 km/jam. Hujan mulai berhenti ketika kami menuju ke Nanga Panda. Bintang bertabur di atas kami. Suasana yang dingin membuat kami menggigil.

Malam itu kami sampai di kota pukul 23.00 WITA, jadi perjalanan pulang memakan waktu +/- 5 jam. Kami mampir untuk makan nasi goreng di dekat Bandara H. Aeroboesmen. Sampai di basecamp sudah pukul 24.00 WITA. Kami lantas tidur. Hari itu, melelahkan, tapi memberikan pengalaman yang tidak akan terlupakan.

#Satu tahun untuk selamanya.
April 2014