Beberapa hari ini, Qiqi punya skill baru, yaitu berkumur. Awalnya saya nggak sadar sih. Tiba-tiba aja dia kumur-kumur air ludahnya sendiri. Sok aku puja-puji seketika biar dia semangat.
Nah, dimulailah ritual baru kami dalam hal sikat gigi. Selama ini Qiqi sikat gigi sebelum tidur di kamar. Mulai malam itu, kami sikat gigi bersama di kamar mandi.
Malam ini Qiqi agak rewel, jadilah abahnya yang nyiapin perlengkapan buat gosok gigi, termasuk air buat kumur-kumur. Airnya matang ya biar kalau lupa ketelen ya nggak apa-apa.
Qiqi mulai digosok giginya.
Selesai.
Diambilin air.
Glegek glegek. Saya biarin karena kayaknya dia kehausan.
Abahnya teriak seketika, "Eh lha kui air keran!"
Seketika saya sambar gelas plastik yang sudah berkurang 3 teguk.
"Gimana sih, kan air mateng!"
"LHA NGGAK BILANG!!!"
"YA HARUSNYA TAHU DONG. QIQI LATIHAN BERKUMUR. RISIKO KETELAN GEDE!!!"
Heboh amat di dalam kamar mandi gelap bertiga. Qiqi cuma ngeliatin nggak terima airnya diambil.
Terus abahnya ngambil air mateng dong. Qiqi minum sampe habis. Saya dan abahnya nggak bisa berhenti ketawa sampai pagi.
PS. Kalau Qiqi diare atau pilek, penyebabnya sudah ketahuan. Lol
Showing posts with label Dunia Anak. Show all posts
Showing posts with label Dunia Anak. Show all posts
Monday, September 9, 2019
Monday, June 1, 2015
Tes IQ & EQ untuk 4-5 tahun
Ini adalah buku saya yang ke sekian yang diterbitkan oleh Laksana Kidz, salah satu lini dari Diva Press Group. Buku ini saya tulis setelah saya kembali dari Ende. Pengalaman mengajar saya selama beberapa tahun di PAUD dan mengajar di SD, saya coba tuangkan dalam buku ini. Mungkin buku ini tidak sempurna, tapi selalu saya mencoba menyuguhkan hal yang menarik di sini.
Buku ini sudah ada di Gramedia dan toko buku lainnya. Bisa juga dipesan lewat Laksana Kidz. Atau, kontak saja saya, nanti saya bantu untuk mengirimkan ke alamat Anda :)
Saturday, May 3, 2014
Capturing Ende Part. 6
![]() |
| Belajar dengan Multimedia |
![]() |
| Kapela di Desa yang Masih dalam Tahap Pembangunan |
![]() |
| Chicken Crispy, Makanan Enak di Kota |
![]() |
| Focus Group Discussion di Kelas PKn |
![]() |
| Jum'at Sehat: Sikat Gigi Bersama |
![]() |
| Kelas SBK dan Sains, Membuat Kincir Angin |
Capturing Ende Part. 5
Monday, March 3, 2014
Dia, Afren (Warna-warni Ende Part. 39)
Namanya
adalah Fren.
Matanya yang
bulat, bercahaya, dan selalu terlihat bersemangat membuat saya begitu tertarik
padanya. sebenarnya tidak hanya karena kedua bola matanya yang membuat dia
begitu memesona di mata saya, tapi karena kecerdasan dan semangatnya yang tidak
pernah pudar. Sikapnya.
Tidak
seperti jagoan-jagoan saya lainnya, Fren memiliki sifat yang unik. Memang sih,
setiap anak itu unik. Bahkan 9 jagoan itupun tidak ada yang memiliki sifat yang
sama, semuanya unik.
![]() |
| Afren saat serius mengerjakan UAS semester 1 |
Dia adalah
anak yang akan langsung mengangkat tangan dan berseru menjawab ketika saya
mengajukan pertanyaan—terlepas apakah jawabannya salah atau benar (seringnya
salah :p)
Dia adalah
anak yang akan hati-hati dalam menjawab pertanyaan saat ada tugas atau ulangan—tidak
buru-buru agar cepat selesai, terkadang bisa menjadi yang terakhir—meski
hasilnya tidak selalu menjadi yang terbaik.
Dia adalah
anak yang tidak selalu menjadi nomor satu, tetapi selalu berjuang keras dan
tidak pernah menyontek.
Dia adalah
anak yang akan ramai dan main gila dengan anak lain, kemudian saya akan melotot
ke arahnya dan dia akan menangkupkan kedua tangannya sambil berkata: ‘Ampun,
Bu.’ dengan tatapan mengiba dan merasa bersalah.
Dia adalah
anak yang akan bertanya, ‘Ibu marah pada kami ko?’ ketika saya selesai
membentak mereka karena mereka kacau dan bikin saya jengkel. Tapi, saya pun
akan tersenyum kepadanya, menggeleng pelan, ‘Ibu tidak marah.’
Dia adalah
si pembuka kunci dan penutup kunci kantor dan gudang kami di sekolah—selalu pulang
paling akhir, dan saya selalu berkata, ‘Jangan lupa kunci kantor dan tutup
pintu kelas e?’
Dia adalah
anak yang sangat antusias bertanya pada saya, ‘Siapa yang rangking 1, Ibu?’ saat-saat
sebelum penerimaan rapor semester 1 kemarin. Berharap saya akan menyebutkan
namanya, tetapi saya selalu menolaknya, karena memang ‘dialah’ yang rangking 1.
Dia adalah
anak yang selalu berlari sambil menirukan suara motor—pura-pura naik motor,
‘Ngeng ngeng ngeng’. Padahal jalan naik turun tetapi dia tetap berlari. Lucu
dan semangat. Seolah dia berada di arena balap.
Dia adalah
anak yang merengek minta sepatu sampai menangis karena saya bilang ‘besok harus
pakai sepatu’, padahal saya tidak seserius itu -_-
Dia adalah
anak yang ketika saya menatapnya, dia tersenyum meringis, menampilkan sederet
gigi putih, dengan dua gigi serinya menonjol seperti kelinci (teringat gigi
Hermione :D)
Dia adalah
anak yang akan mengatakan ‘iya’ untuk semua perintah saya.
Dia adalah
anak yang memanggil anak lainnya, ‘Bos!’ entah untuk Bos Keni, Bos No, ataupun
Bos Oni. Lucu...anak-anak lainnya mengikutinya.
Dia adalah
anak yang akan berseru girang saat mendapat nilai paling bagus, tetapi juga
menerima dengan lapang dada ketika nilainya jelek... ‘Ah, gue hanya dapat 60
saja, Bos Keni!’ (saya hanya bisa tersenyum simpul di dalam hati)
Dia adalah
anak yang akan sangat khusyuk saat berdoa: memejamkan mata dan menangkupkan
kedua tangannya dengan khidmat, sementara dahinya berkerut tampak
berkonsentrasi sekali.
Ah, saya
merasa sangat menyayangi Fren.
Tapi, tentu
saja saya menyayangi mereka.
Berharap,
suatu hari dia akan menggapai impiannya. Oh ya, saya pernah meminta mereka
menulis apa cita-cita mereka. Dan cita-cita Fren adalah:
“Menjadi
polisi karena menembaki musuk. (di bagian ini saya tertawa)
Cara yang harus saya lakukan adalah dengan
rajin berdoa, berlari, dan berdoa.”
Semoga
cita-citamu tercapai, Nak.
@Ratenusa,
19 Februari 2014
#beberapa hari ini saya kehilangan senyumnya di kelas
karena dia kena cacar air, berharap semoga dia baik-baik saja ^^
Sunday, February 16, 2014
Buku Terbaru (Oktober 2013)
Ini dia salah satu buku yang kami garap ramai-ramai. Buku yang recommended banget. Penulis-penulisnya benar-benar memang sesuai dengan bidangnya.
Kalau ingin tahu lebih jauh tentang isinya, cek di SINI ya.
Kalau ingin tahu lebih jauh tentang isinya, cek di SINI ya.
Saturday, November 30, 2013
Capturing Ende Part. 2
![]() |
| Imunisasi di Sekolah |
![]() |
| Istirahat Sambil Baca-baca |
![]() |
| Lunch Sebelum Les Siang |
![]() |
| Bikin Meja dan Kursi Sendiri |
![]() |
| Tadah Air untuk Siram Bunga |
![]() |
| Praktik Langsung Membuat Kursi dan Meja Kayu |
Senam Yuk....! (Warna-warni Ende Part. 19)
Beberapa
hari ini, anak-anak sedang hobi senam. Namanya senam riang anak Indonesia. Seru
sih...
Tapi, karena
kondisi gedung yang masih sementara, dan tidak memungkinkan untuk senam di
luar, kami pun senam indoor. Hehehehe...
Jadi, kursi
kantor pun digeser ke kanan dan ke kiri, kursi ditumpuk, dan hasilnya adalah
ruang senam indoor, hehehe...
Anak-anak
antusias banget lhoh...karena kondisi yang seadanya, senamnya pun digilir,
kelas 1, kelas 2, baru kelas 3. Mereka senam 1 sesi 2 kali senam. Peralatannya
juga sederhana, yaitu laptop.
ini dia
jepretannya...
| Anak Kelas 1 Senam |
![]() |
| Anak Kelas III Senam |
Sunday, November 10, 2013
Capturing Ende 1
![]() |
| Apel Pagi Setiap Hari |
![]() |
| Berdoa Dahulu Sebelum Makan Makanan Lokal Bersama (Kegiatan Hari Sabtu) |
![]() |
| Olahraga Pagi, Asyikk ^^ |
![]() |
| Jagoan-jagoan Kecil di Kelas 3 |
![]() |
| Kelas SBK, Bikin Kerajinan dari Daun Kemiri |
![]() |
| Kegiatan Belajar di Dalam Kelas |
| |||
| Outclass di Halaman Sekolah (Semua Siswa) |
Monday, September 10, 2012
Agar Balita Mau Mendengarkan
Mendengarkan dan mengikuti instruksi yang diberikan oleh bunda atau ayah memang bukan hal favorit balita terutama usia prasekolah. George Morison, Ed.D, professor Fakultas Pendidikan Usia Dini Universitas Texas, Denton, mengatakan, di saat yang sama, anak-anak usia 3-5 tahun menjadi sangat independent yang artinya tidak menyukai interupsi. Mengacuhkan Anda, orantuanya, adalah satu cara untuk menunjukkan ‘kekuasaanya.’
Namun memaklumi kebutuhan anak untuk mandiri bukan berarti mengijinkannya untuk tak mendengarkan Anda. Adalah sangat penting mengajarkan ia untuk mendengarkan, sebelum mengacuhkan Anda-dan orang lain-menjadi kebiasaan. Membangun ketrampilan sosial yang benar akan membantunya sukses di sekolah dan dalam pergaulan. Anda bisa mulai mendorong balita untuk mendengar dengan strategi ini:
Namun memaklumi kebutuhan anak untuk mandiri bukan berarti mengijinkannya untuk tak mendengarkan Anda. Adalah sangat penting mengajarkan ia untuk mendengarkan, sebelum mengacuhkan Anda-dan orang lain-menjadi kebiasaan. Membangun ketrampilan sosial yang benar akan membantunya sukses di sekolah dan dalam pergaulan. Anda bisa mulai mendorong balita untuk mendengar dengan strategi ini:
- Tunjukkan empati. Anak akan lebih mudah mengungkapkan masalahnya pada orangua yang mau mendengarkan mereka.
- Hindari pembicaraan jarak jauh. Berteriak dari depan rumah untuk berbicara dengan anak yang sedang bermain di kamarnya tentu tidak akan ada hasilnya. Dekati ia, sentuh bahunya, panggil namanya dan katakan keinginan Anda. Jangan bicara sebelum balita melakukan kontak mata dengan Anda. Bila ia tak menjawab, minta dengan nada ramah untuk menatap Anda.
- Kalimat pendek saja. Mengomel panjang lebar atau memberi petuah 200 kata sudah pasti membuat anak makin tak betah di dekat Anda. Buat kalimat yang mudah dipahami dan langsung sasaran, dan jadikan hanya dua atau tiga tahap dalam sekali perintah (“Pakai sepatumu, ambil tasmu, Ibu tunggu di mobil, ya!”). minta ia mengulang istruksi Anda sehingga ia ingat apa yang harus dikerjakan.
- Turunkan volume. Teriakan membuat anak tak suka mendengarkan Anda karena mereka fokus pada kemarahan Anda, bukan pada kata-kata Anda. Kata-kata lembut, walu tetap tegas, akan lebih didengar karena mereka merasa diperhatikan.
- Gunakan bahasa tubuh. Perkuat permintaan Anda dengan menggunakan gerakan, misalnya jari menunjuk ke arah kamar ketika Anda meminta balita tidur. Bisa juga Anda ciptakan kode rahasia bersama balita sebagai petunjuk bila Anda minta didengarkan, seperti mengerutkan hidung. Sudah pasti, humor lebih baik daripada pendekatan yang terlalu galak.
- Lengkapi konsekuensi. Katakan permintaan Anda hanya sekali atau dua kali, dan tambahkan konsekuensinya. “Kalau kamu tidak membereskan bonekamu, kita tidak akan pergi ke rumah Oma.” Atau ketika Anda bertanya ingin es krim atau tidak dan ia tidak menjawab, singkirkan, dan jika kelak ia minta, jawab dengan,”Wah, maaf. Es krimnya sudah habis.” Ini mengajarkan anak untuk mendengarkan setiap kali Anda bicara.
- Tidak memutus aktivitas. Terkadang orangtua perlu membiarkan balita asik dengan kegiatannya sebelum memintanya untuk mendengarkan Anda. Terlalu sering memutus kegiatannya hanya akan membuatnya makin cuek pada Anda. Bicaralag pada saat ia sedang tidak terlalu intens pada suatu aktivitas. Beri ia waktu beberapa saat sebelum ia harus menghentikan aktivitasnya dan melakukan hal lain. Jangan lupa, setelah ia mendengarkan Anda, berilah pujian dan apresiasi.
sumber: http://m.ayahbunda.co.id/article/mobArticleDetail.aspx?mc=001&smc=007&ar=444
Subscribe to:
Comments (Atom)





















