Showing posts with label Dunia Anak. Show all posts
Showing posts with label Dunia Anak. Show all posts

Monday, September 9, 2019

Cerita Qiqi 1

Beberapa hari ini, Qiqi punya skill baru, yaitu berkumur. Awalnya saya nggak sadar sih. Tiba-tiba aja dia kumur-kumur air ludahnya sendiri. Sok aku puja-puji seketika biar dia semangat.

Nah, dimulailah ritual baru kami dalam hal sikat gigi. Selama ini Qiqi sikat gigi sebelum tidur di kamar. Mulai malam itu, kami sikat gigi bersama di kamar mandi.

Malam ini Qiqi agak rewel, jadilah abahnya yang nyiapin perlengkapan buat gosok gigi, termasuk air buat kumur-kumur. Airnya matang ya biar kalau lupa ketelen ya nggak apa-apa.

Qiqi mulai digosok giginya.
Selesai.
Diambilin air.
Glegek glegek. Saya biarin karena kayaknya dia kehausan.

Abahnya teriak seketika, "Eh lha kui air keran!"
Seketika saya sambar gelas plastik yang sudah berkurang 3 teguk.
"Gimana sih, kan air mateng!"
"LHA NGGAK BILANG!!!"
"YA HARUSNYA TAHU DONG. QIQI LATIHAN BERKUMUR. RISIKO KETELAN GEDE!!!"
Heboh amat di dalam kamar mandi gelap bertiga. Qiqi cuma ngeliatin nggak terima airnya diambil.

Terus abahnya ngambil air mateng dong. Qiqi minum sampe habis. Saya dan abahnya nggak bisa berhenti ketawa sampai pagi.


PS. Kalau Qiqi diare atau pilek, penyebabnya sudah ketahuan. Lol

Monday, June 1, 2015

Tes IQ & EQ untuk 4-5 tahun

Ini adalah buku saya yang ke sekian yang diterbitkan oleh Laksana Kidz, salah satu lini dari Diva Press Group. Buku ini saya tulis setelah saya kembali dari Ende. Pengalaman mengajar saya selama beberapa tahun di PAUD dan mengajar di SD, saya coba tuangkan dalam buku ini. Mungkin buku ini tidak sempurna, tapi selalu saya mencoba menyuguhkan hal yang menarik di sini.

Buku ini sudah ada di Gramedia dan toko buku lainnya. Bisa juga dipesan lewat Laksana Kidz. Atau, kontak saja saya, nanti saya bantu untuk mengirimkan ke alamat Anda :)

Data Buku

Berat
0.18 kg
Tahun
2015
Halaman
72
ISBN
9786022960904
Penerbit
Laksana Kidz

Saturday, May 3, 2014

Capturing Ende Part. 6

Belajar dengan Multimedia

Kapela di Desa yang Masih dalam Tahap Pembangunan

Chicken Crispy, Makanan Enak di Kota

Focus Group Discussion di Kelas PKn

Jum'at Sehat: Sikat Gigi Bersama
Kelas SBK dan Sains, Membuat Kincir Angin

Capturing Ende Part. 5

Mereka Belajar dengan Serius
Beginilah tampang No dan Keni ketika diberi tugas membaca intensif. Serius sekali.


Monday, March 3, 2014

Dia, Afren (Warna-warni Ende Part. 39)


Namanya adalah Fren.
Matanya yang bulat, bercahaya, dan selalu terlihat bersemangat membuat saya begitu tertarik padanya. sebenarnya tidak hanya karena kedua bola matanya yang membuat dia begitu memesona di mata saya, tapi karena kecerdasan dan semangatnya yang tidak pernah pudar. Sikapnya.

Tidak seperti jagoan-jagoan saya lainnya, Fren memiliki sifat yang unik. Memang sih, setiap anak itu unik. Bahkan 9 jagoan itupun tidak ada yang memiliki sifat yang sama, semuanya unik.

Afren saat serius mengerjakan UAS semester 1
Dia adalah anak yang akan langsung mengangkat tangan dan berseru menjawab ketika saya mengajukan pertanyaan—terlepas apakah jawabannya salah atau benar (seringnya salah :p)
Dia adalah anak yang akan hati-hati dalam menjawab pertanyaan saat ada tugas atau ulangan—tidak buru-buru agar cepat selesai, terkadang bisa menjadi yang terakhir—meski hasilnya tidak selalu menjadi yang terbaik.
Dia adalah anak yang tidak selalu menjadi nomor satu, tetapi selalu berjuang keras dan tidak pernah menyontek.
Dia adalah anak yang akan ramai dan main gila dengan anak lain, kemudian saya akan melotot ke arahnya dan dia akan menangkupkan kedua tangannya sambil berkata: ‘Ampun, Bu.’ dengan tatapan mengiba dan merasa bersalah.
Dia adalah anak yang akan bertanya, ‘Ibu marah pada kami ko?’ ketika saya selesai membentak mereka karena mereka kacau dan bikin saya jengkel. Tapi, saya pun akan tersenyum kepadanya, menggeleng pelan, ‘Ibu tidak marah.’
Dia adalah si pembuka kunci dan penutup kunci kantor dan gudang kami di sekolah—selalu pulang paling akhir, dan saya selalu berkata, ‘Jangan lupa kunci kantor dan tutup pintu kelas e?’
Dia adalah anak yang sangat antusias bertanya pada saya, ‘Siapa yang rangking 1, Ibu?’ saat-saat sebelum penerimaan rapor semester 1 kemarin. Berharap saya akan menyebutkan namanya, tetapi saya selalu menolaknya, karena memang ‘dialah’ yang rangking 1.
Dia adalah anak yang selalu berlari sambil menirukan suara motor—pura-pura naik motor, ‘Ngeng ngeng ngeng’. Padahal jalan naik turun tetapi dia tetap berlari. Lucu dan semangat. Seolah dia berada di arena balap.
Dia adalah anak yang merengek minta sepatu sampai menangis karena saya bilang ‘besok harus pakai sepatu’, padahal saya tidak seserius itu -_-
Dia adalah anak yang ketika saya menatapnya, dia tersenyum meringis, menampilkan sederet gigi putih, dengan dua gigi serinya menonjol seperti kelinci (teringat gigi Hermione :D)
Dia adalah anak yang akan mengatakan ‘iya’ untuk semua perintah saya.
Dia adalah anak yang memanggil anak lainnya, ‘Bos!’ entah untuk Bos Keni, Bos No, ataupun Bos Oni. Lucu...anak-anak lainnya mengikutinya.
Dia adalah anak yang akan berseru girang saat mendapat nilai paling bagus, tetapi juga menerima dengan lapang dada ketika nilainya jelek... ‘Ah, gue hanya dapat 60 saja, Bos Keni!’ (saya hanya bisa tersenyum simpul di dalam hati)
Dia adalah anak yang akan sangat khusyuk saat berdoa: memejamkan mata dan menangkupkan kedua tangannya dengan khidmat, sementara dahinya berkerut tampak berkonsentrasi sekali.

Ah, saya merasa sangat menyayangi Fren.
Tapi, tentu saja saya menyayangi mereka.
Berharap, suatu hari dia akan menggapai impiannya. Oh ya, saya pernah meminta mereka menulis apa cita-cita mereka. Dan cita-cita Fren adalah:
 “Menjadi polisi karena menembaki musuk. (di bagian ini saya tertawa)
Cara yang harus saya lakukan adalah dengan rajin berdoa, berlari, dan berdoa.”

Semoga cita-citamu tercapai, Nak.

@Ratenusa, 19 Februari 2014
#beberapa hari ini saya kehilangan senyumnya di kelas karena dia kena cacar air, berharap semoga dia baik-baik saja ^^

Sunday, February 16, 2014

Buku Terbaru (Oktober 2013)

Ini dia salah satu buku yang kami garap ramai-ramai. Buku yang recommended banget. Penulis-penulisnya benar-benar memang sesuai dengan bidangnya.

Kalau ingin tahu lebih jauh tentang isinya, cek di SINI ya.

Saturday, November 30, 2013

Capturing Ende Part. 2

Imunisasi di Sekolah

Istirahat Sambil Baca-baca

Lunch Sebelum Les Siang

Bikin Meja dan Kursi Sendiri

Tadah Air untuk Siram Bunga

Praktik Langsung Membuat Kursi dan Meja Kayu

Senam Yuk....! (Warna-warni Ende Part. 19)




Beberapa hari ini, anak-anak sedang hobi senam. Namanya senam riang anak Indonesia. Seru sih...

Tapi, karena kondisi gedung yang masih sementara, dan tidak memungkinkan untuk senam di luar, kami pun senam indoor. Hehehehe...


Jadi, kursi kantor pun digeser ke kanan dan ke kiri, kursi ditumpuk, dan hasilnya adalah ruang senam indoor, hehehe...


Anak-anak antusias banget lhoh...karena kondisi yang seadanya, senamnya pun digilir, kelas 1, kelas 2, baru kelas 3. Mereka senam 1 sesi 2 kali senam. Peralatannya juga sederhana, yaitu laptop.

ini dia jepretannya...

Anak Kelas 1 Senam

Anak Kelas III Senam

Sunday, November 10, 2013

Capturing Ende 1

Apel Pagi Setiap Hari

Berdoa Dahulu Sebelum Makan Makanan Lokal Bersama (Kegiatan Hari Sabtu)

Olahraga Pagi, Asyikk ^^

Jagoan-jagoan Kecil di Kelas 3

Kelas SBK, Bikin Kerajinan dari Daun Kemiri

Kegiatan Belajar di Dalam Kelas

 
Outclass di Halaman Sekolah (Semua Siswa)

Monday, September 10, 2012

Agar Balita Mau Mendengarkan

Mendengarkan dan mengikuti instruksi yang diberikan oleh bunda atau ayah memang bukan hal favorit balita terutama usia prasekolah. George Morison, Ed.D, professor Fakultas Pendidikan Usia Dini Universitas Texas, Denton, mengatakan, di saat yang sama, anak-anak usia 3-5 tahun menjadi sangat independent yang artinya tidak menyukai interupsi. Mengacuhkan Anda, orantuanya, adalah satu cara untuk menunjukkan ‘kekuasaanya.’

Namun memaklumi kebutuhan anak untuk mandiri bukan berarti mengijinkannya untuk tak mendengarkan Anda. Adalah sangat penting mengajarkan ia untuk mendengarkan, sebelum mengacuhkan Anda-dan orang lain-menjadi kebiasaan. Membangun ketrampilan sosial yang benar akan membantunya sukses di sekolah dan dalam pergaulan. Anda bisa mulai mendorong balita untuk mendengar dengan strategi ini:
  • Tunjukkan empati. Anak akan lebih mudah mengungkapkan masalahnya pada orangua yang mau mendengarkan mereka.
  • Hindari pembicaraan jarak jauh. Berteriak dari depan rumah untuk berbicara dengan anak yang sedang bermain di kamarnya tentu tidak akan ada hasilnya. Dekati ia, sentuh bahunya, panggil namanya dan katakan keinginan Anda. Jangan bicara sebelum balita melakukan kontak mata dengan Anda. Bila ia tak menjawab, minta dengan nada ramah untuk menatap Anda.
  • Kalimat pendek saja. Mengomel panjang lebar atau memberi petuah 200 kata sudah pasti membuat anak makin tak betah di dekat Anda. Buat kalimat yang mudah dipahami dan langsung sasaran, dan jadikan hanya dua atau tiga tahap dalam sekali perintah (“Pakai sepatumu, ambil tasmu, Ibu tunggu di mobil, ya!”). minta ia mengulang istruksi Anda sehingga ia ingat apa yang harus dikerjakan.
  • Turunkan volume. Teriakan membuat anak tak suka mendengarkan Anda karena mereka fokus pada kemarahan Anda, bukan pada kata-kata Anda. Kata-kata lembut, walu tetap tegas, akan lebih didengar karena mereka merasa diperhatikan.
  • Gunakan bahasa tubuh. Perkuat permintaan Anda dengan menggunakan gerakan, misalnya jari menunjuk ke arah kamar ketika Anda meminta balita tidur. Bisa juga Anda ciptakan kode rahasia bersama balita sebagai petunjuk bila Anda minta didengarkan, seperti mengerutkan hidung. Sudah pasti, humor lebih baik daripada pendekatan yang terlalu galak.
  • Lengkapi konsekuensi. Katakan permintaan Anda hanya sekali atau dua kali, dan tambahkan konsekuensinya. “Kalau kamu tidak membereskan bonekamu, kita tidak akan pergi ke rumah Oma.” Atau ketika Anda bertanya ingin es krim atau tidak dan ia tidak menjawab, singkirkan, dan jika kelak ia minta, jawab dengan,”Wah, maaf. Es krimnya sudah habis.” Ini mengajarkan anak untuk mendengarkan setiap kali Anda bicara.
  • Tidak memutus aktivitas. Terkadang orangtua perlu membiarkan balita asik dengan kegiatannya sebelum memintanya untuk mendengarkan Anda. Terlalu sering memutus kegiatannya hanya akan membuatnya makin cuek pada Anda. Bicaralag pada saat ia sedang tidak terlalu intens pada suatu aktivitas. Beri ia waktu beberapa saat sebelum ia harus menghentikan aktivitasnya dan melakukan hal lain. Jangan lupa, setelah ia mendengarkan Anda, berilah pujian dan apresiasi. 
#setelah saya amati, artikel ini sebenarnya tak hanya ditujukan untuk balita, tapi juga anak usia SD kelas rendah.

sumber: http://m.ayahbunda.co.id/article/mobArticleDetail.aspx?mc=001&smc=007&ar=444